rpm-ftui

21/05/2026 11:30 Authored By: Administrator


Jutaan ton limbah plastik dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menumpuk setiap tahun tanpa pemanfaatan optimal. Dosen dan tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menjawab dua masalah ini sekaligus melalui Wood Plastic Composite (WPC) — material komposit yang menggabungkan plastik jenis polyethylene (PE) dengan serat TKKS. Hasilnya adalah material yang tampak dan terasa seperti kayu, tetapi lebih tahan lama, tahan cuaca, dan mudah dibentuk. WPC dapat diaplikasikan untuk decking, pagar, furnitur taman, panel dinding, hingga komponen interior — menjadi alternatif kayu konvensional yang tidak mudah lapuk, tidak dimakan rayap, dan perawatannya minimal.

Pengembangan WPC bukan tanpa tantangan. Selain proses penghalusan TKKS menjadi bubuk dengan ukuran partikel yang sesuai, hambatan utama terletak pada masalah kompatibilitas antara biomassa dan plastik. Keduanya memiliki sifat permukaan yang berbeda sehingga tidak mudah menyatu secara optimal. Tim peneliti harus mengembangkan formulasi khusus agar campuran kedua bahan ini menghasilkan properti mekanik, termal, dan ketahanan yang setara atau lebih baik dari kayu konvensional.

“Plastik bekas dan sisa perkebunan sawit yang selama ini jadi beban lingkungan, sekarang bisa jadi material pengganti kayu yang justru lebih awet. Ini bukan hanya soal daur ulang, tetapi menciptakan rantai nilai baru dari dua sektor limbah sekaligus,” ujar Adam Febriyanto Nugraha, dosen Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI sekaligus peneliti di Green Polymer Technology Laboratory (GPTech).

Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan dukungannya. “Inovasi ini menunjukkan bahwa riset di FTUI benar-benar menjawab tantangan nyata di masyarakat. Kami berharap Wood Plastic Composite dapat segera dikembangkan ke skala industri sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas, baik bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.”

Riset ini didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan keterlibatan Center for Sustainability and Waste Management UI (CSWM UI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan PT Polymindo Permata (Viro). Dengan potensi pasar material komposit yang terus tumbuh serta tekanan regulasi terhadap penggunaan kayu alam dan pengelolaan limbah plastik, WPC berbasis limbah sawit memiliki peluang komersialisasi yang nyata — baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Sumber: FTUI