02/03/2026 13:35 Authored By: Administrator

Simbolisasi Penyerahan Alat Pengubah Plastik Botol PET menjadi Filamen 3D Printer. Sumber: Dokumen Pribadi.
Kelompok Ibu PKK RW 01 Kelurahan Pegangsaan Dua mencatat tonggak baru dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan. Melalui program inovatif bertajuk “Program Penambahan Nilai Sampah Botol Plastik Menjadi Filamen 3D Printer”, para ibu rumah tangga kini mampu mengolah limbah botol plastik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Hibah Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Tahun 2025, yang bertujuan mengimplementasikan hasil riset dan teknologi tepat guna untuk menjawab permasalahan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan. Program ini diketuai oleh Dr. Tomy Abuzairi dan melibatkan Prof. Nji Raden Poespawati, keduanya merupakan dosen dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Kegiatan implementasi dimulai pada awal bulan Desember 2025 dengan sosialisasi dan pelatihan teknis yang melibatkan lebih dari 10 anggota aktif Ibu PKK. Dalam pelatihan ini, mereka diperkenalkan pada teknologi Pengubah Botol Plastik PET menjadi Filamen 3D Printer berbasis Mikrokontroler, yang mampu mengolah botol plastik PET menjadi filamen berdiameter 1,75 mm—standar industri pencetakan 3D.

Ibu-Ibu PKK sedang melakukan pelatihan. Sumber: Dokumen Pribadi
Pelatihan dan Teknologi Tepat Guna
Pelatihan difasilitasi oleh tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Indonesia yang membimbing peserta dalam aspek teknis operasional mesin, kontrol suhu, dan prosedur quality control dasar. Alat Pengubah Botol Plastik PET menjadi Filamen 3D Printer yang digunakan merupakan hasil modifikasi dari desain open-source yang telah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas lokal. Dengan kapasitas produksi hingga 5 kg filamen per hari, alat ini menjadikan limbah plastik sebagai bahan bernilai tinggi bagi industri 3D printing dan komunitas kreatif.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Program ini menargetkan produksi minimal 100 kg filamen per tahun, dengan estimasi pendapatan tambahan mencapai Rp 10–15 juta per tahun bagi kelompok Ibu PKK. Selain dampak ekonomi, masyarakat sekitar juga mendapatkan edukasi tentang pentingnya circular economy dan pemilahan sampah dari rumah.
Selanjutnya, kelompok Ibu PKK akan memperluas usaha dengan memproduksi produk turunan berbasis 3D printing, seperti gantungan kunci, suvenir, dan alat peraga pendidikan. Rencana pengembangan jaringan mitra usaha juga telah disusun bersama komunitas maker dan pelaku UMKM.
Dengan semangat kolaborasi, penerapan teknologi inovatif, dan peran aktif perempuan dalam ekonomi sirkular, kegiatan ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang inspiratif dan dapat direplikasi secara luas.
Sumber: Kompasiana