rpm-ftui

27/12/2016 12:39 Authored By: Administrator

Setidaknya itulah tiga keunggulan Triwitono, kapal lambung pelat datar berbahan baja hasil rancang bangun dosen dan alumni Program Studi Teknik Perkapalan Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang diluncurkan pada Oktober tahun lalu.

Kapal Triwitono diinisiasi oleh Hadi Tresno Wibowo, dosen Teknik Perkapalan Departemen Teknik Mesin FTUI. Nama Triwitono merujuk pada nama pendiri Jurusan Teknik Perkapalan UI.

Salah seorang alumnus yang terlibat membangun kapal itu, Sanlaruska Fathernas (25), Sabtu (23/5) malam, di Kampus UI Depok, mengatakan produk tersebut, yang merupakan inovasi dalam rancang bangun desain lambung kapal, mampu menjawab tiga isu seperti diutarakan di awal. Bahan lambung yang terbuat dari baja akan dengan mudah didaur ulang saat menjadi sampah guna diolah kembali menjadi lempengan-lempengan baja baru.

Kapal dengan lambung baja seperti itu, imbuh Sanlaruska, juga relatif mudah diterima perbankan sebagai agunan dibandingkan dengan kapal berbahan kayu ataupun serat kaca. Ini bisa menjawab kebutuhan modal bagi para nelayan di Indonesia.

Adapun kemudahan perawatannya diperoleh dari struktur lambung yang terdiri atas potongan-potongan pelat baja datar. Tatkala terjadi kerusakan, upaya perbaikan yang perlu dilakukan hanyalah dengan mengganti potongan tertentu di bagian tersebut saja, memotongnya dan lantas mengelas lagi dengan potongan baru.

Pelat baja datar sebagai bahan pembentuk lambung menjadi pilihan karena ketersediaan kayu berkualitas kini relatif makin jarang ditemui. Adapun bahan serat kaca memiliki sejumlah kelemahan jika ditinjau dari sudut pandang keamanan dan kesehatan.

Dalam aplikasi produksi, ia menambahkan, kapal dengan lambung yang dibuat dari pelat datar itu bisa menghemat hingga 30 persen jam kerja. Demikian pula dengan 30 persen biaya produksi yang bisa ditekan.

Menurutnya, tingkat efisiensi itu tercapai apabila dibandingkan metode pembuatan kapal dengan pelat lengkung. Pasalnya, terdapat sejumlah biaya lain, seperti kebutuhan untuk menggunakan mesin pelengkung pelat baja yang harga dan biaya pengoperasiannya relatif mahal.

Sementara apabila menggunakan pelat baja datar, proses bending dan rollingditiadakan. Adapun bentuknya tetap bisa disesuaikan dengan desain dan kebutuhan di wilayah perairan tertentu.

Saham nelayan

Sanlaruska menyebutkan, kapal dengan ukuran panjang 12 meter itu akan dijadikan semacam contoh untuk diproduksi bersama guna memenuhi kebutuhan nelayan. Kapal yang bagian atasnya tetap dari bahan serat kaca untuk memudahkan pembentukan desain itu rencananya akan diproduksi bersama-sama dengan masyarakat nelayan dalam basis komunitas.

Pakar Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA), Masril Koto, mengutarakan, pola pembiayaan yang akan diterapkan ialah dengan menawarkan kepemilikan saham kepada para nelayan. "Model pendekatan LKMA dan terminal ikan," kata Masril.

Pada tahap pertama, model ini akan lebih dahulu dicobakan di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Sanlaruska menambahkan, untuk kebutuhan produksi di wilayah lain, potongan-potongan material kapal tersebut bisa dikirimkan ke daerah-daerah tertentu dan bisa dirakit di daerah tujuan dengan relatif mudah.

Menurut Sanlaruska, soal pengembangannya ke depan, saat ini tengah dipetakan daerah-daerah mana saja yang bisa memproduksinya. Ia menambahkan, pola pendanaan kemitraan dilakukan dengan menggandeng nelayan itu dipandang relatif ideal karena memang ditujukan guna menjawab kebutuhan nelayan.

Adapun harga yang ditawarkan, kapal dengan ukuran 7 meter ditawarkan sekitar Rp 68 juta. Harga itu hanya berupa lambung dan dek, tanpa mesin, kursi, dan kemudi. Dari harga sebesar itu, modal yang dibutuhkan sekitar 70 persen.

"Untuk kapal yang ukuran 12 meter, saya belum hitung secara rinci komponen biayanya," ujar Sanlaruska.

Kini, bersama empat alumni dan seorang dosen Program Studi Teknik Perkapalan Departemen Teknik Mesin FTUI, mereka bernaung di bawah bendera Juragan Kapal Indonesia. Sebanyak tiga kapal serupa ukuran 7 meter dan satu kapal ukuran 12 meter sudah diproduksi.

Ia menambahkan, teknik ini seperti cetak biru yang akan bisa diproduksi di mana-mana. Pengembangan kapal dengan lambung dari bahan pelat baja datar tersebut diharapkan bisa menjadi semacam bentuk kapal nasional yang menjadi ciri Indonesia.

Asal Belanda

Sanlaruska mengatakan, kapal dengan lambung berbahan pelat baja datar itu bermula dari penelitian dosen bernama Hadi Tresno Wibowo. Pada 2011, sejumlah mahasiswa, termasuk Sanlaruska, ditantang untuk melanjutkan hal tersebut.

Pada 2012, hal itu dilombakan dalam ajang yang diselenggarakan Kemenristek. "Itu kompetisi technopreneur muda dan kami menang. Lalu, tahun berikutnya, menang lagi sebagai juara satu," kata Sanlaruska.

Seperti dikutip dari paper yang ditulis Hadi Tresno Wibowo dan Marcus Albert Talahatu dari Program Studi Teknik Perkapalan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia pada Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin (SNTTM) ke-9 Palembang, 13-15 Oktober 2010, ide dasar kapal lambung pelat datar itu diperoleh dari Belanda.

Adalah kapal kontainer "Pioneer", yang merupakan kapal lambung pelat datar rancangan Prof Gallin dari TU Delft pada tahun 1977-1979 sebagai ide dasar tersebut.

Dalam paper tersebut dijabarkan sejumlah teknik penghitungan agar pelat baja datar bisa dipergunakan seefektif mungkin. Hadi dan Marcus dalam papertersebut juga menjelaskan bahwa teknik ini memungkinkan desain, penghitungan, dan pembuatan kapal dapat dilakukan terpadu sehingga prosesnya dapat terjadi secara massal, cepat, dan ekonomis. 

Artikel yang dimuat dalam web ini adalah bagian dari Program Insentif Promosi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat oleh Dosen FTUI di Media Massa.

Sumber: print.kompas.com